Skripsi
The Effect of Conditional Cash Transfer on Parental Educational Aspiration: Evidence from Indonesia's Poor Student Help Program (BSM)
Pengaruh Program Bantuan Tunai Bersyarat terhadap Aspirasi Pendidikan Orang Tua: Studi Kasus Program Bantuan Siswa Miskin (BSM) Indonesia
Deskripsi
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji apakah penerimaan program Bantuan Siswa Miskin (BSM), sebuah program bantuan tunai yang dirancang untuk membantu rumah tangga miskin menanggung biaya tidak langsung pendidikan, dapat meningkatkan aspirasi pendidikan orang tua terhadap anak-anak mereka. Berbeda dengan program bantuan tunai bersyarat yang bersifat lebih umum, BSM secara khusus ditujukan bagi anak usia sekolah, sehingga menjadi instrumen yang lebih tepat untuk menilai apakah dukungan finansial yang berfokus pada peserta didik dapat mengubah cara orang tua memandang masa depan pendidikan anak mereka.
Penelitian ini menggunakan data Indonesia Family Life Survey (IFLS) gelombang 4 (2007) dan gelombang 5 (2014) serta menerapkan pendekatan household first-difference. Tiga spesifikasi model diestimasi, yaitu difference-in-differences (DiD) sederhana, DiD dengan kontrol karakteristik awal rumah tangga, dan propensity score matching untuk mengestimasi average treatment effect on the treated (PSM-ATT) sebagai uji ketahanan (robustness check). Aspirasi pendidikan diukur berdasarkan jumlah tahun pendidikan yang diharapkan orang tua dapat diselesaikan oleh anak mereka.
Hasil penelitian secara konsisten menunjukkan adanya hubungan positif antara penerimaan BSM dan peningkatan aspirasi pendidikan orang tua, dengan estimasi pengaruh berkisar antara 0,32 hingga 0,46 tahun tambahan pendidikan yang diharapkan. Tingkat signifikansi statistik cenderung melemah ketika kelompok pembanding menjadi lebih sebanding, yang mencerminkan karakteristik penargetan program kepada rumah tangga miskin, bukan karena tidak adanya pengaruh program. Temuan ini menunjukkan bahwa BSM memberikan peningkatan nyata, meskipun relatif terbatas, terhadap aspirasi pendidikan orang tua. Besaran pengaruh yang moderat tersebut sejalan dengan karakteristik BSM yang terutama mengatasi hambatan finansial melalui pengurangan biaya pendidikan, namun belum menyentuh hambatan internal yang memengaruhi cara rumah tangga miskin memandang nilai maupun keterjangkauan pendidikan yang lebih tinggi.
Penelitian ini menggunakan data Indonesia Family Life Survey (IFLS) gelombang 4 (2007) dan gelombang 5 (2014) serta menerapkan pendekatan household first-difference. Tiga spesifikasi model diestimasi, yaitu difference-in-differences (DiD) sederhana, DiD dengan kontrol karakteristik awal rumah tangga, dan propensity score matching untuk mengestimasi average treatment effect on the treated (PSM-ATT) sebagai uji ketahanan (robustness check). Aspirasi pendidikan diukur berdasarkan jumlah tahun pendidikan yang diharapkan orang tua dapat diselesaikan oleh anak mereka.
Hasil penelitian secara konsisten menunjukkan adanya hubungan positif antara penerimaan BSM dan peningkatan aspirasi pendidikan orang tua, dengan estimasi pengaruh berkisar antara 0,32 hingga 0,46 tahun tambahan pendidikan yang diharapkan. Tingkat signifikansi statistik cenderung melemah ketika kelompok pembanding menjadi lebih sebanding, yang mencerminkan karakteristik penargetan program kepada rumah tangga miskin, bukan karena tidak adanya pengaruh program. Temuan ini menunjukkan bahwa BSM memberikan peningkatan nyata, meskipun relatif terbatas, terhadap aspirasi pendidikan orang tua. Besaran pengaruh yang moderat tersebut sejalan dengan karakteristik BSM yang terutama mengatasi hambatan finansial melalui pengurangan biaya pendidikan, namun belum menyentuh hambatan internal yang memengaruhi cara rumah tangga miskin memandang nilai maupun keterjangkauan pendidikan yang lebih tinggi.