Skripsi
Analisis Abnormal Return Saham Pada Event Stock Split di Bursa Efek Indonesia Pada Periode 2015-2025
Stock Abnormal Return Analysis on The Stock Split Event in the Indonesian Stock Exchange in the 2015-2025 Period
Pengarang:
Justin Raphael - ; Asiah Muchtar (Pembimbing/Promotor) - ; Sigit Sulistiyo Wibowo (Penguji) - ; Ratna Juwita (Penguji) -
Deskripsi
Penelitian ini menganalisis reaksi pasar modal Indonesia terhadap peristiwa stock split pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2015-2025. Reaksi pasar diukur melalui abnormal return dengan pendekatan event study dan market-adjusted model. Secara teoretis, stock split tidak mengubah nilai fundamental perusahaan; oleh karena itu peristiwa ini dianalisis melalui dua kerangka utama, yaitu signaling theory yang memandang split sebagai sinyal positif manajemen mengenai prospek perusahaan sekaligus sarana menurunkan asimetri informasi, dan trading range theory yang menjelaskan split sebagai upaya mengembalikan harga saham ke rentang yang lebih terjangkau guna memperluas basis investor dan meningkatkan likuiditas. Sampel penelitian terdiri atas 97 peristiwa stock split, dengan tahun 2020 diperlakukan sebagai buffer year karena merepresentasikan guncangan awal pandemi COVID-19, sehingga analisis komparatif utama membandingkan periode pra-pandemi (2015-2019) dan periode pasca-shock awal pandemi (2021-2025). Penelitian ini menggunakan dua tanggal peristiwa, yaitu tanggal pengumuman (announcement date) dan tanggal efektif pelaksanaan (ex-date), dengan jendela peristiwa selama 11 hari bursa, yaitu lima hari sebelum hingga lima hari sesudah peristiwa (-5,+5). Abnormal return dihitung menggunakan market-adjusted model, kemudian diagregasi menjadi Average Abnormal Return (AAR) dan Cumulative Average Abnormal Return (CAAR), dan diuji signifikansinya menggunakan statistik J1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasar bereaksi positif dan signifikan pada tanggal pengumuman, dengan CAAR sebesar 0,034420 (sekitar 3,44%) yang signifikan pada taraf 1% (p = 0,006456). Sebaliknya, reaksi pasar pada ex-date tidak signifikan secara statistik, dengan CAAR sebesar 0,017406 (sekitar 1,74%) dan p = 0,255625. Analisis komparatif memperlihatkan reaksi yang jauh lebih kuat pada periode pra-pandemi, dengan CAAR sebesar 0,057255 (sekitar 5,73%) yang signifikan pada taraf 1%, dibandingkan periode pasca-pandemi yang melemah dan tidak signifikan, dengan CAAR sebesar 0,014092 (sekitar 1,41%). Temuan ini menegaskan bahwa reaksi pasar terhadap stock split di Bursa Efek Indonesia bersifat informasional, bukan prosedural: konsentrasi respons pada tanggal pengumuman mendukung signaling theory, sedangkan arah reaksi yang positif konsisten dengan trading range theory. Melemahnya reaksi pada periode pasca-pandemi mengindikasikan pasar yang semakin padat informasi seiring meningkatnya partisipasi investor ritel, sehingga tanggal pengumuman menjadi titik peristiwa yang lebih relevan dibandingkan ex-date.