Text
Pengembangan dan pengujian teori agensi yang ada saat ini banyak merujuk pada masalah agensi di perusahaan dengan struktur kepemilikan menyebar. Padahal struktur kepemilikan yang menyebar tersebut hanya umum terjadi di Amerika Serikat dan Inggris . Di negara maju yang lain maupun di negara-negara sedang berkembang, kebanyakan perusahaan memiliki struktur kepemilikan terkonsentrasi dengan pemilik utama keluarga. Pengembangan teori agensi juga ditandai oleh munculnya dua pendekatan, yaitu pendekatan principal-agent yang cenderung matematis dan pendekatan positive-agency yang cenderung empiris, yang keduanya seolah terpisah. Penelitian ini ingin mengisi kelangkaan pengujian teori agensi di negara yang kebanyakan struktur kepemilikan perusahaannya terkonsentrasi pada keluarga, yaitu Indonesia, sekaligus menganalisisnya dengan dua pendekatan secara simultan. Dari pendekatan prinsipal-agent, masalah agensi dilihat sebagai permainan antara prinsipal (pemilik non-keluarga) dan agen (pemilik keluarga/manajer). Pennainan ini bersifat berurutan-berulang (repeated-sequential games) dan merniliki kesan adanya sebuah tumamen . Dari sudut game modeling , strategi 'tit for tat' yang memberi reward terhadap agen yang bertindak baik dan memberi punishment terhadap agen yang bwuk, merupakan model yang efektif untuk mengurangi masalah agensi yang karakteristiknya seperti itu. Hasil uji empiris dengan analisis time series yang dilakukan perusahaan per perusahaan menunjukkan bahwa banyak investor yang memakai strategi ini terutama pada tahun 1996. Namun strategi 'tit for tat' hanya efektif untuk rnengurangi masalah agensi jika bentuknya reward. Pola punishment tidak efektif karena investor tidak konsisten dalam menerapkan strateginya. Dari pendekatan positive-agency, diuji tiga mekanisme untuk mengurangi masalah agensi yaitu; mengatur struktur kepemilikan, bonding dengan hutang, dan bonding dengan dividen. Hasilnya menunjukkan bahwa: ( 1) Penurunan kepernilikan keluarga akan mengurangi masalah agensi namun setelah titik tertentu pemmman kepernilikan keluarga justru akan meningkatkan masalah agensi. Penurunan masalah agensi ini semakin efektif untuk perusahaan yang dipersepsikan investor berprospek baik namun menjadi kurang efektif ketika ukuran perusahaan relatif besar (2) Perusahaan yang dikontrol oleh keluarga, negara, atau institusi keuangan pengurangan masalah agensinya lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang dikontrol oleh perusahaan publik atau perusahaan yang tanpa pengontrol utama . Namun ada bias monopoli pada keunggulan negara sebagai pengontrol (3) Mekanisme bonding dengan meningkatkan hutang tidak efektif untuk ment,1lrrangi rnasalah agensi . Pada tahun 1996, peningkatan hutang justru meningkatkan masalah agensi karena banyak hutang berasal dari bank yang satu kelompok. Pada tahun 2000, peningkatan masalah agensi tersebut cenderung dapat dinetralisir terutama pada perusahaan yang dikontrol keluarga. ( 4) Mekanisme bonding dengan meningkatkan dividen secara umum efel-..'tif untuk mengurangi masalah agensi baik pada perusahaan yang dikontrol keluarga maupun yang dikontrol bukan keluarga. (5) Meskipun bonding dividen efektif, namun mekanisme ini dihindari oleh perusahaan yang kepemilikan keluarganya mendekati batas mayoritas atau dominasi . Nampaknya, perusahaan dengan struktur kepemilikan terkonsentrasi pada keluarga merniliki akar masalah agensi dan mekanisme pengontrol masalah agensi yang berbeda dengan perusahaan dengan struktur kepemilikan menyebar. Ada tabel
| Call Number | Location | Available |
|---|---|---|
| T 017/03 | PSB lt.2 - Karya Akhir | 1 |
| Penerbit | Depok: Program Pascasarjana Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 2003 |
|---|---|
| Edisi | - |
| Subjek | Management control Public corporation |
| ISBN/ISSN | - |
| Klasifikasi | - |
| Deskripsi Fisik | vii, 121 p. : ill. ; 30 cm |
| Info Detail Spesifik | - |
| Other Version/Related | Tidak tersedia versi lain |
| Lampiran Berkas | Tidak Ada Data |