Text
Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini investor sangat berhati hati mengambil tindakan dikarenakan kondisi politik, sosial dan keamanan di Indonesia sehingga keputusan berinvestasi di Indonesia hanya didasarkan pada kondisi fundamental emiten dan rasa percaya pada emiten. Dampaknya adalah saham saham kecil menjadi tidak tersentuh sehingga dapat dikatakan menjadi saham tidur ( saham yang intensitas perdagangannya sangat jarang / tidak ada sama sekali ). Salah satu cara agar emiten tetap mendapatkan modal yang dibutuhkannya saat ini untuk produksi / membayar hutang / kegiatan investasinya adalah emiten mencari cara agar investor dapat tertarik kepada saham perusahaan tersebut. Berbagai kebijakaan dapat dilakukan mulai dari restrukturisasi, pengembangan produk perusahaan ( difersifikasi / diferensiasi ), penambahan bonus, stock split, right issue dan sebagainya. Pada tahun 1995 emiten mulai melakukan split stock secara terus menerus hingga tahun 1999 dengan alasan hendak meningkatkan likuiditas sahamnya agar mampu dijangkau oleh banyak kalangan investor khususnya investor dengan skala dana investasi kecil. Beberapa peneliti yakin bahwa saham perusahaan yang melakukan split stock akan meningkatkan nilai perusahaan karena harga saham perusahaan yang lebih rendah sehingga permintaan akan jumlah saham tersebut akan bertambah. Sedangkan peneliti yang lain yang mendukung pasar yang efisien menyatakan bahwa seharusnya tidak ada perubahan pada nilai perusahaan yang berarti bahwa sebenarnya perusahaan hanyalah menambah jumlah saham yang beredar di masyarakat dan tidak secara fundamental mempengaruhi nilai perusahaan yang melakukan split stock. Studi terhadap stock split dilakukan Fama Et. Al yang menyatakan bahwa stock split tidak menghasilkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi karena kebijakan tersebut tidaklah menambah ?value? dari perusahaan. Mereka mengasumsikan bahwa semua informasi yang relevan dengan stock split telah disesuaikan ( didiskontokan ) dalam harga. Satu alasan kuat yang menjelaskan mengapa split stock dapat menghasilkan tingkat pengembalian positif adalah biasanya beberapa waktu setelah perusahaan melakukan kebijakan split stock, perusahaan akan membagikan dividen ( sama besarnya / lebih besar dari biasa ). Perubahan pada besaran dividen itu menjelaskan bahwa manajemen mempunyai keyakinan bahwa akan mendapatkan laba yang baru dengan tingkat yang lebih tinggi pula pada masa mendatang pula. Reverse stock adalah kebalikan proses dari split stock. Pada umumnya reverse stock dilakukan oleh perusahaan untuk mencapai suatu trading area tertentu yang diinginkan manajemen. Alasan melakukan reverse stock adalah agar trading range yang diinginkan tersebut dapat segera didapatkan, tanpa dengan pembuktian performance dari perusahaan. Oleh karena itu, banyak ketidakpercayaan investor terhadap perusahaan yang akan melakukan kebijakan reverse stock. Penelitian ini akan meriset tingkat pengembalian yang dihasilkan karena adanya event split dan reverse stock tersebut, khususnya di Indonesia. Dengan melihat fenomena adanya abnormal return pada penelitian sebelumnya dinegara lain, maka penelitian ini mencoba untuk memberi gambaran mengenai fenomena yang sama di Indonesia. Ada tabel
| Call Number | Location | Available |
|---|---|---|
| 5192 | PSB lt.2 - Karya Akhir | 1 |
| Penerbit | Depok: Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 2005 |
|---|---|
| Edisi | - |
| Subjek | Share valuation Financial management Share prices Capital market Stock return |
| ISBN/ISSN | - |
| Klasifikasi | - |
| Deskripsi Fisik | vi, 108 p. : diagr. ; 30 cm |
| Info Detail Spesifik | - |
| Other Version/Related | Tidak tersedia versi lain |
| Lampiran Berkas | Tidak Ada Data |