Text
Setiap perusahaan memerlukan sumber daya untuk menghasilkan produk atau jasa yang dibutuhkan pelanggannya. Terdapat dua tipe sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan produk yaitu committed resources dan buy as needed resources. Committed resources memiliki kapasitas sedangkan buy as needed resources tidak memiliki kapasitas. Agar dapat bersaing, perusahaan harus dapat menghilangkan semua bentuk pemborosan. Untuk itu perusahaan memerlukan informasi yang akurat mengenai penggunaan sumber daya yang dimilikinya. Pengukuran biaya kapasitas dan penyediaan idle capacity cost secara terpisah dapat menyorot area masalah dan memungkinkan tanggapan manajemen. Pengelolaan biaya kapasitas dapat mengoptimalkan keputusan modal, mengefektifkan penggunaan investasi yang telah dibuat, dan meminimalkan kebutuhan investasi di masa mendatang. Sebagian besar sumber daya yang dimiliki dan digunakan PT (Persero) Angkasa Pura I Cabang Bandar Udara Hasanuddin Makassar untuk melakukan aktivitas kebandarudaraan berupa committed resources. Peningkatan teknologi pesawat yang cepat dan perkembangan bisnis transportasi udara yang pesat memerlukan pengelolaan sumber daya dan pembuatan keputusan investasi yang lebih baik. Namun, perusahaan belum menerapkan suatu sistem akuntansi biaya termasuk belum melakukan pengukuran biaya kapasitas untuk mengelola sumber dayanya sehingga perusahaan tidak mengetahui biaya dari suatu produk dan bagaimana penggunaan dari sumber daya yang dimilikinya. Dari seluruh sumber daya yang tersedia untuk aktivitas pengamanan penumpang dan barangnya di Bandar Udara Hasanuddin selama tahun 2003, ternyata yang digunakan secara produktif hanya sebesar 37.75%. Akibatnya perusahaan terbebani biaya dari kapasitas yang nonproduktif sebesar Rp823,513,875 dan kapasitas yang idle off limit sebesar Rp116,105,329. Sedangkan untuk aktivitas penyediaan gedung terminal dan fasilitasnya bagi penumpang domestik, sumber daya yang digunakan secara produktif hanya sebesar 7.23%. Akibatnya perusahaan terbebani biaya dari kapasitas yang idle off limit sebesar Rp3,507,013,119 dan idle marketable sebesar Rp4,300,656,837. Untuk aktivitas penyediaan gedung terminal dan fasilitasnya bagi penumpang internasional, sumber daya yang digunakan secara produktif hanya sebesar 2.55%. Akibatnya perusahaan terbebani biaya dari kapasitas yang idle off limit sebesar Rp361,754,935 dan idlet marketable sebesar Rp484,249,827. Biaya sumber daya yang layak dibebankan sebagai biaya produk atas Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara untuk tahun 2003 adalah sebesar Rp6,008,798,027. Sedangkan biaya sumber daya sebesar Rp4,784,906,663 harus dibebankan sebagai cost of business yang langsung dibebankan ke laporan rugi laba. Dalam membuat keputusan strategis maupun operational, perusahaan sebaiknya menggunakan informasi biaya kapasitas. Dalam Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara, perusahaan sebaiknya mengeliminasi kapasitas yang idle marketable dengan meningkatkan kegiatan pemasaran dan meningkatkan kualitas pelayanan mengingat prospek bisnis kebandarudaraan yang masih baik di wilayah Indonesia Timur . Atas kapasitas yang masih idle off limit, perusahaan sebaiknya mempertimbangkan upaya memanfaatkan kapasitas tersebut antara lain dengan menambah jam operasi bandara namun tetap mempertimbangkan kondisi pasar. Ada tabel
| Call Number | Location | Available |
|---|---|---|
| T 102/04 | PSB lt.2 - Karya Akhir | 1 |
| Penerbit | Jakarta: Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 2004 |
|---|---|
| Edisi | - |
| Subjek | Profitability |
| ISBN/ISSN | - |
| Klasifikasi | - |
| Deskripsi Fisik | ix, 97 p. diagr. 28 cm & lamp. |
| Info Detail Spesifik | - |
| Other Version/Related | Tidak tersedia versi lain |
| Lampiran Berkas | Tidak Ada Data |